Perpisahan Siswa Kelas XII SMK Negeri 1 Yogyakarta Tahun Pelajaran 2018/2019
“Memory Like A Galaxy”, itulah tema yang diusung pada acara Perpisahan SMK Negeri 1 Yogyakarta Tahun 2018/2019. Dilaksanakan pada hari Kamis, 02 Mei 2019 di Aula SMKN 1 Yogyakarta. Acara ini begitu spesial karena bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, sehingga diawali dengan Pembacaan Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Dalam Peringatan Hari Pendidikan Nasional oleh Bapak Elyas, S.Pd., M.Eng.
Kemudian dilanjutkan dengan pertunjukkan pentas seni yang ditampilkan oleh Kelas siswa-siswa X dan XI, Band Guru dan TU, Band Alumni, Teater Smero juga dimeriahkan oleh Absurd.Ska dan AKD Band Koplo.
Acara selesai pada pukul 14.00 WIB dengan lancar.
Penyerahan medali dan piagam penghargaan bagi siswa berprestasi SMK Negeri 1 Yogyakarta
Senin, 29 April 2019 dilaksanakan upacara bendera sekaligus penyerahan medali dan piagam penghargaan untuk siswa siswi berprestasi di SMK Negeri 1 Yogyakarta. Prestasi yang diraih kali ini dari berbagai bidang lomba yaitu :
DAFTAR NAMA PEMENANG
1) Juara III Catur Popda DIY atas nama Fallentina Diaz Anindhya Rossiyanti
2) Juara I Pomsae Kejuaran Taekwondo atas nama Rasyida Ammara kelas XI OTKP 2
3) Juara I Pomsae Kejuaran Taekwondo atas nama Safelia kelas XI OTKP 2
4) Juara 3 Kyoruki Putri atas nama Anisa Hanifah kelas XI AKKL 1
5) Juara 3 Kypruki Putra atas nama Rizky Agung kelas X AKKL 1
Perkemahan Pramuka Kelas XI Tahun Pelajaran 2018/2019
Sebagai salah satu pendidikan di luar sekolah yang mampu bertahan di segala jaman, Pramuka dinilai dapat menjadi benteng dalam mendidik dan membina generasi muda dengan jiwa tangguh, terampil, cerdas dan disiplin. Dalam kegiatan tersebut, para anggota bukan hanya menerima materi atau isi pelajaran melainkan juga memiliki kesempatan belajar menumbuhkan sikap-sikap dan perbuatan yang baik untuk membentuk karakter dan kekuatan jasmani. Kepramukaan memiliki berbagai aspek pembelajaran mulai dari segi spiritual, emosional, sosial, jasmani dan rohani, yang diperoleh dari beragam kegiatan. Pada setiap kegiatannya bisa dilakukan secara individu maupun kelompok, seperti dalam kegiatan perkemahan pramuka.
Pengibaran Bendera Merah Putih
Upacara Bendera hari Senin mempunyai manfaat yang sangat baik bagi upaya penumbuhan budi pekerti dan karakter bangsa, terutama nilai-nilai kebangsaan dan kebhinekaan. Nilai-nilai tersebut terkandung di dalam setiap urutan kegiatan/tata upacara bendera. Nilai-nilai tersebut diantaranya adalah nilai kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama dan kekompakan, kekuatan fisik dan mental, patriotisme (kepahlawanan), dan lain sebagainya.
BURSA KERJA SMK 2019
Keterserapan lulusan SMK di Dunia Usaha/Dunia Industri (DU/DI) sebagai salah satu indikator keberhasilan pendidikan vokasi dalam menyelenggarakan pendidikan, perlu menjadi perhatian semua pihak. Kegiatan dalam rangka pemasaran lulusan melalui bursa kerja banyak diselenggarakan, akan tetapi peluang yang dibuka oleh DU/DI bagi lulusan SMK terbilang sangat minim, padahal pendidikan kejuruan adalah pendidikan menengah yang mempersiapkan siswa untuk bekerja dalam bidang tertentu. Tenaga kerja yang berdaya saing dan terampil salah satu di antaranya dilahirkan dari pendidikan dan pelatihan vokasi yang bermutu dan relevan dengan tuntutan DU/DI yang terus menerus berkembang. Hal ini sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016, mengenai revitalisasi SMK untuk meningkatkan kualitas SDM agar mampu mengikuti perkembangan teknologi juga persaingan dengan tenaga asing, khususnya ASEAN melalui Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) nya.
Kebutuhan DU/DI ditanggapi oleh dunia pendidikan dengan menyelaraskan kurikulum SMK sesuai dengan kompetensi kebutuhan pengguna lulusan (link and match) dan mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). SMK Negeri 1 dan SMK Negeri 5 Yogyakarta memahami kebutuhan tersebut. Sebagai sekolah kejuruan, kami senantiasa melakukan perbaikan guna meningkatkan kompetensi lulusan demi memenuhi demand driven serta mewujudkan link and match antara pendidikan kejuruan dengan DU/DI. Perbaikan yang dilakukan oleh sekolah dapat dibuktikan dengan unggulnya skill lulusan SMK sehingga dapat disejajarkan dengan lulusan D2 ataupun D3 pada level pelaksana, ditambah dengan sertifikasi kompetensi dan bekal bahasa asing untuk memenangkan persaingan dengan tenaga kerja asing. Selain mengukir prestasi dengan bekerja di dunia usaha/dunia industri, sesuai slogan SMK Bisa-Hebat, lulusan SMK juga diharapkan dapat berwirausaha dan atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui program SMK Pencetak Wirausaha (SPW) yang terintegrasi dengan konsep BMW SMK yaitu bekerja, melanjutkan studi, wirausaha merupakan model pembelajaran yang mendorong siswa untuk memiliki keterampilan melalui praktik usaha. Siswa didorong melakukan praktik wirausaha berbasis daring/online karena dipandang relatif murah dan mudah untuk pemula. Khususnya bagi siswa generazi Z, sejalan dengan upaya menghadapi era industri 4.0.
Saat ini, pendidikan kewirausahaan di SMK diimplementasikan dalam berbagai bentuk pembelajaran berbasis produksi dan bisnis, seperti Teaching Factory, atau Techno Park yang merupakan praktik nyata dari mata pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan (PKK) serta Simulasi dan Komunikasi Digital. Pendidikan kewirausahaan ini sejalan dengan penguatan pendidikan karakter (PPK), dimana salah satu nilai karakter utama yang ingin dicapai melalui program SPW ini adalah kemandirian. Dengan tema make your way, bursa kerja tahun 2019 kali ini akan memfasilitasi siswa dan alumni SMK Negeri 1 dan SMK Negeri 5 Yogyakarta serta masyarakat umum mengenai kesempatan kerja melalui bursa kerja, meningkatkan motivasi untuk berwirausaha melalui Entrepreneurship Talkshow, serta membuka kesempatan melanjutkan pendidikan melalui informasi pendidikan tinggi.
Acara dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu, 20 dan 21 April 2019 di Ruang Sasana Handrawinata, Malioboro Convention Center (MCC), Grand Inna Malioboro, Jalan Malioboro 60 Yogyakarta. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY Drs. K. Baskara Aji yang hadir dan membuka bursa kerja, menyebutkan sekolah, dunia usaha dan perguruan tinggi merupakan mitra sejajar karena saling membutuhkan. SMK butuh meyalurkan lulusannya, dunia industri membutuhkan tenaga kerja, dan perguruan tinggi membutuhkan mahasiswa baru. (Kedaulatan Rakyat, Minggu Legi, 21 April 2019, Halaman 2).
Bursa Kerja SMK 2019
Bursa Kerja SMK 2019 🎉🆙🎊 Hey save the date yaaa, tanggal 20-21 April 2019 🙌 ayo buat temen-temen yg masih bingung mau kerja dimana dan masih bingung cari tempat kerja yg sesuai dengan yg kalian inginkan langsung aja datang ke Bursa Kerja SMK 2019 🎉📢🎊😍😊 yg akan di selenggarakan pada:
Sabtu, 20 April 2019
⏰11.00 s.d. 16.00
Minggu, 21 April 2019
⏰09.00 s.d. 16.00
🏫 Malioboro Convention Centre (MCC)/Grand Inna Malioboro
Jalan Malioboro 60 Yogyakarta
Acara ini akan di ikuti oleh 24 perusahaan peserta dengan banyak formasi lowongan, dan akan di meriahkan dengan entrepreneurship talkshow bersama narasumber yang kece kece
Free 🆓 HTM dan terbuka untuk lulusan SMK, SMA, D3, maupun S1
Informasi lebih lanjut silahkan hubungi
WA : 081328670703
087738072331
Line : bkk.smkn1yk
FB : Bursa Kerja SMK Negeri 1
Yogyakarta
IG : @bursakerjasmk
@bkksmkjogja
MAKE YOUR WAY 🙌💪🎊😄💃🎉
MARI KITA BERKREASI UNTUK MEMPERINDAH LINGKUNGAN SEKOLAH
Sopan Santun Budaya Yang Terlupakan
Sopan Santun Budaya Yang Terlupakan
Banyak pendapat menyatakan anak muda sekarang kurang menghargai sesamanya, penghormatan kepada orang yang lebih tua dan empati kepada yang menderita dinilai menipis. Salah satu contohnya yang mudah dilihat adalah membiarkan orang tua, perempuan hamil atau ibu yang sedang menggendong anaknya berdiri, sementara anak muda memilih tetap duduk di kursi dalam angkutan umum. Benarkah itu?
Iya, memang tak dapat dipungkiri, seiring dengan perkembangan zaman, tingkah laku para remaja kian berubah dari waktu ke waktu. Rasa hormat terhadap orang yang lebih tua secara terang-terangan sering kali tak ditunjukkan. Datangnya kebudayaan dari barat sangat mempengaruhi nilai-nilai tradisional bangsa Indonesia, sehingga semakin lama nilai tradisional Negara kita sendiri semakin pudar. Para remaja Indonesia kian mengikuti dan mencontoh kebudayaan luar negeri dan melupakan nilai-nilai tradisional Negara sendiri, seperti contohnya kesopanan.
Sopan santun, atau juga dikenal sebagai tata krama, merupakan salah satu ciri khas dari masyarakat Indonesia. Sejak dahulu, bangsa Indonesia dikenal dengan keramahannya, kesopanannya, serta adat istiadat yg dijunjung tinggi. Namun, apabila kita berkaca pada kehidupan bangsa saat ini, sungguh ironis sekali dimana banyak sekali pergeseran yang dilakukan oleh anak- anak, remaja mengenai budaya sopan santun ini. Di majalah, televisi, internet, tak jarang orang berani melakukan perilaku yang sebenarnya dianggap tidak sopan, namun sudah dianggap biasa.
Secara tidak langsung dengan kurangnya kita bersopan santun dan bertatakrama, jati diri kita sebagai bangsa indonesia sudah mulai luntur. Inilah masalah besar yang timbul dari hal sepele, perkara yang seharusnya kitaperhatikan sejak kita masih kecil, hal yang seharusnya diajarkan oleh para orang tua. Memang, masih banyak orang dari bangsa ini yang masih menjunjung kesopanan dan tatakrama, tetapi lebih banyak lagi orang-orang yang telah melupakan tentang tatakrama dan sopan santun tersebut. Inilah persoalan yang mendasar yang menjadi permasalahan bangsa indonesia saat ini. “Krisis jati diri” mungkin itu kata yang tepat untuk menyebutkan situasi bangsa Indonesia saat ini. Sebenarnya kata itu sangat menyakitkan hati bagi oarang-orang yang mau berfikir. Bangsa ini merupakan bangsa yang berbudaya , namun bangsa ini kini telah kehilangan jatu dirinya. Bangsa yang duluhebat karena budayanya, kini telah rapuh dengan sendirinya. Persoalan inilah yang menimbulkan masalah yang lebih besar dan mengerikan.
Pada dasarnya kita harus sopan dimana saja, kapan saja dan dalam kondisi apapun. Apalagi kita hidup dalam budaya Timur yang sarat akan nilai-nilai kesopanan, sehingga seharusnya kita berpatokan dalam budaya timur dan berpedoman pada sopan santun ala timur. Sopan santun itu bukan warisan semata dari nenek moyang, lebih dari itu, dia sudah menjadi kepribadian kita. Memang kadar kesopanan yang berlaku dalam setiap masyarakat berbeda–beda, tergantung dari kondisi sosial setempat. Dan permasalahan ini sangat komplek karena berkaitan dengan faktor internal dan eksternal yang menyebabnya lunturnya nilai sopan santun.
Faktor eksternal terealisasi dalam kondisi sekarang yang secara realita kebudayaan terus berubah karena masuknya budaya barat yang akan sulit mempertahankan kesopanan disemua keadaan ataupun disemua tempat. Perubahan tersebut mengalami dekadensi karena berbedanya kebudayaan barat dengan kebudayaan kita. Misalnya saja sopan santun dalam tutur kata. Di barat, anak-anak yang sudah dewasa biasanya memanggil orang tuanya dengan sebutan nama, tetapi di Indonesia sendiri panggilan tersebut sangat tidak sopan karena orang tua umurnya lebih tua dari kita dan kita harus memanggilnya bapak ataupun ibu. Kemudian sopan santun dalam berpakaian, diluar negeri orang yang berpakaian bikini dipantai bagi mereka wajar. Tapi bagi kita berpakaian seperti itu sangat tidak sopan karena dianggap tidak sesuai dengan norma kesopanan. Selanjutnya Sopan santun dalam bergaul, dibarat jika kita bertemu teman yang berlawanan jenis kita boleh mencium bibirnya, tetapi di Indonesia hal tersebut sangat bertentangan dengan kesusilaan. Oleh karena kebudayaan yang masuk tidak tersaring sepenuhnya menyebabkan lunturnya sopan santun.
Sedangkan faktor internalnya ada pada diri sendiri, keluarga, lingkungan tempat nongkrong, lingkungan sekolah, ataupun media massa. Pengetahuan tentang sopan santun yang didapat disekolah mungkin sudah cukup tapi dilingkungan keluarga ataupun tempat tongkrongan dan media massa kurang mendukung tindakan sopan disemua tempat ataupun sebaliknya, sehingga membuat tindakan sopan yang dilakukan oleh anak-anak atau pun remaja hanya dalam kondisi tertentu. Misalnya penyebutan nama bagi yang umurnya lebih tua masih dianggap tidak sopan sehingga mereka memanggil mas, bang, aa, ataupun yang lain. Sedangkan dalam berpakaian ataupun yang lain kurang diperhatikan. Kita sendiri tak memungkiri keadaan tersebut , kondisi lingkungan yang kurang peduli terhadap kesopanan, sehingga akhirnya pada saat-saat tertentu saja kita sopan. Seperti disekolah, ditempat kuliah, ataupun di tempat-tempat formal yang lainnya. Keadaan ini seharusnya jangan sampai terjadi karena lama kelamaan akan menimbulkan hilangnya kebudayaan kita dan mungkin akhirnya kita tidak mempunyai kebudayaan sendiri.
Fakta lain yang menunjukkan menurunnya tingkat kesopanan remaja di Indonesia adahal seperti halnya zaman dahulu, para remaja sangatlah sopan terhadap orang yang lebih tua. Mereka harus berlutut atau dalam bahasa jawa “sungkem” jika sedang berhadapan dengan orang yang lebih tua. Para remaja sangat hormat dan tunduk kepada orang tua dan hal tersebut membuktikan bahwa para remaja sangatlah sopan terhadap orang tua. Tetapi sangatlah berbeda dengan zaman sekarang. Kebanyakan remaja berlaku tidak sopan terhadap orang yang lebih tua. Melawan ketika dinasihati, memotong pembicaraan, membiarkan berdiri sedangkan ia tetap memilih duduk dikursi dalam angkutan umum, dan masih banyak lagi lainnya.
Melihat kondisi demikian, agaknya tepat jika orang tua ikut berperan dalam pembentukan etika pada anak. Dan orang tua pula dituntut untuk mengajarkan nilai-nilai tersebut. Namun mengajarkan etika tidak bisa dilakukan hanya satu hari. Hal ini membutuhkan proses yang cukup panjang dan haris dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. Hal tersebut adalah suatu langkah awal untik membentuk suatu generasi yang sadar diri terhadap tatakrama dan sopan santun.
Pendidikan karakter juga harus terus diupayakan sebagai pengganti dari konsep Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang kini telah tiada dan hanya tinggal menjadi sebuah nama dalam perjalanan sejarah masa lalu. Pengertian karakter yang banyak dikaitkan dengan pengertian budi pekerti, akhlak mulia, moral, dan bahkan dengan kecerdasan ganda (multiple intelligence) kiranya bisa membantu dalam membentuk norma kesopanan pada anak. Hal ini Mengingat lingkungan pendidikan merupakan tempat di mana waktu banyak dihabiskan maka perannya juga tidak boleh dikecilkan. Sayangnya, pendidikan budaya di lingkungan sekolah sejauh ini belum bisa mencapai tujuan utamanya. Pendidikan bahasa Jawa hanya mengajarkan tutur bahasa Jawa. Seharusnya, pengajaran tentang kebudayaan Jawa yang berkaitan dengan budi pekerti dan kepribadian juga diajarkan. Perkembangan zaman saat ini merupakan pemicu dari lambatnya pemahaman budaya masyarakat termasuk pendidik. Selain itu, secara disiplin ilmu mereka juga tidak paham tentang budaya sebenarnya. Padahal pendidikan karakter yang selama ini digemborkan dalam sistem pendidikan, sangat erat kaitannya dengan kearifan lokal, termasuk budaya dan bahasa Jawa.
Nilai-nilai tradisional sebenarnya sangatlah penting bagi remaja-remaja itu sendiri. Nilai-nilai kesopanan yang dibawa remaja-remaja Indonesia akan memberi dampak positif bagi mereka yang membawanya. Remaja-remaja yang menjaga kesopanan di mana saja dan terhadap siapa saja akan dinilai lebih oleh orang lain dan hal tersebut menjadikan image yang bagus bagi remaja itu sendiri. Menjaga kesopanan juga menjanjikan masa depan yang lebih baik karena orang-orang akan menganggap kita tinggi dan bermartabat.
Nilai-nilai tradisional terutama kesopanan harus tetap dijaga para remaja Indonesia sehingga tidak hilang seiring dengan berkembangnya zaman. Nilai-nilai kesopanan sangatlah penting dalam hidup bermasyarakat dan bersosialisasi dengan orang banyak sehingga orang lain juga dapat menghormati kita sebagaimana kita telah menjaga kesopanan dikalangan orang banyak. Dengan menjaga nilai-nilai kesopanan kita, para remaja yang disebut-sebut sebagai penerus bangsa, juga dapat memajukan bangsa Indonesia dengan menjaga nilai-nilai tradisional yang sudah dibawa dari dulu.
Tulisan ini hanya sekadar mengungkapkan kekecewaan penulis atas berkurangnya nilai-nilai kesopanan yang dimiliki bangsa ini. Marilah kita mulai membuka mata, dan melihat kembali di sekeliling kita, apakah sopan santun itu masih ada, atau hanya akan menjadi budaya yang terlupakan oleh bangsa ini.
Renungkanlah sejenak, meskipun kesopanan itu merupakan bagian kecil dari kehidupan, kesopanan inilah yang akan membuat hidup kita jadi lebih baik. Mari kita mulai untuk menghidupkan kembali budaya sopan santun yang baik. Menanamkan itu pada anak cucu kita, sehingga ciri khas dari bangsa ini tidak akan hilang ditelan waktu. “Sopan santun sebuah budaya yang terlupakan” hanyalah sebagai pengingat untuk kita agar tidak melupakan perilaku sopan dan santun dalam kehidupan ini.
Teruntuk generasi-generasi muda Indonesia yang cerdas, semangat, baik, berwawasan luas, sehat jasmani dan rohani, moral yang baik dan menjunjung tinggi kesopanan, mari kita bersatu rapatkan barisan kita, perbaiki kembali kepribadian kita, akhlak kita, moral kita, dan lihatlah ke dalam diri kita sendiri dan renungkan kembali apa yang harus kita lakukan sebagai generasi muda Indonesia agar Negara kita Negara yang bersih, sehat, maju, kuat, dan cerdas dengan anak-anak dari generasi yang akan datang. Kita semua tahu, sebagi generasi muda Indonesia masa depan Indonesia bergantung pada generasi muda selanjutnya yang akan maju menggantikan generasi senior yang memang sudah waktunya menyerahkan kepemimpinan kepada generasi-generasi muda untuk mengurus dan membenahi Negara kita Indonesia menjadi Negara yang lebih baik, adil, jujur, dan bersih dari segala macam keburukan-keburukan yang kotor.
Pertemuan Orang Tua Siswa Kelas XII Menjelang UN
SMK Negeri 1 Yogyakarta (Skaoneta)
Berkualitas, berkarakter, berakhlak dan berbudaya
Kemarin menjelang pertemuan orang tua siswa kelas XII yang direncanakan pukul 13.00 – 15.00 didahului dengan hujan yang sangat deras. Alhamdulillah ternyata hujan tidak menjadi hambatan untuk orang tua datang di SMK Negeri 1 Yogyakarta. Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian orang tua siswa terhadap putra dan putrinya sangat istimewa.
Kepedulian yang demikian inilah yang menjadi semangat kami untuk senantiasa mendidik putra – putri dengan kerja cerdas dan kerja keras serta kerja ikhlas. Semoga dengan kerjasama yang baik antara orangtua, semua civitas akademika Skaoneta, siswa dan siswi kelas XII akan memperoleh prestasi yang sangat tinggi sehingga menjadi kebanggaan baik sekolah maupun orang tua. Saya pun berharap semua siswa dan siswi SMK Negeri 1 Yogyakarta bisa lulus dengan baik dan akan segera bisa mengabdi kepada masyarakat baik melalui wirausaha maupun yang lainnya.
Semoga di waktu yang tersisa ini kurang lebih selama 2 bulan anak-anakku kelas XII bisa mengoptimalkan waktunya sebaik mungkin sehingga bisa mengikuti berbagai macam ujian yang diselenggarakan oleh sekolah baik secara sektoral maupun secara nasional. Oleh karena itu mohon semua guru terutama yang mengajar kelas XII selalu untuk mengingatkan kepada anak didiknya agar bisa belajar dengan baik dan jangan lupa berdoa. Berdoa merupakan bagian dari orang yang beriman yang setiap doa kita akan dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Saatnya SMK Negeri 1 Yogyakarta bisa menjadi lebih hebat. Hebat gurunya, karyawannya, siswanya kerjasama dengan orang tuanya.






































































































M